profesi agen asuransi

Jika anda bertemu sejumlah agen asuransi dan menanyakan apa pekerjaan mereka sebelum menjadi agen, pastilah mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

Anda akan menemukan agen asuransi yang sebelumnya menjadi karyawan. Ada juga dari kalangan pengusaha. Ada yang pekerja mandiri atau pengusaha. Ada yang pernah jadi ASN (Aparatul Sipil Negara).

Lalu ada yang mantan pegawai bank. Ada yang tadinya dokter. Ada yang pernah jadi guru. Ada yang ahli IT. Ada yang bekas direktur. Ada yang sekaligus ibu rumah tangga. Ada yang pernah jadi pembantu rumah tangga.

Ada yang awalnya pengangguran. Ada yang seniman. Ada yang jadi agen saat masih mahasiswa. Ada yang lulusan sekolah bergengsi di luar negeri. Ada yang pegiat MLM (Multi Level Marketing). Bahkan ada yang pensiunan.

Pertanyaannya, mengapa mereka mau jadi agen asuransi?

Tentunya alasan mereka bermacam-macam. Tapi pastilah mereka melihat sesuatu yang baik di bisnis ini, yang mungkin lebih baik dibanding bisnis atau pekerjaan mereka yang lama.

Mungkin mereka ingin menjadi lebih baik dari segi penghasilan, mungkin mereka melihatnya dari segi fleksibilitas waktu kerja, mungkin karena ada unsur membantu orang melalui produknya dan juga bisnisnya, mungkin karena suka jalan-jalan ke luar negeri, suka dengan penghargaan, gemar dengan tantangan, senang menjalin relasi, atau ingin mengembangkan diri. Semuanya dimungkinkan di bisnis ini.

Pertanyaannya lagi, mengapa profesi agen asuransi terbuka untuk beragam kalangan?

Setidaknya ada empat faktor.

Pertama, profesi agen asuransi tidak mensyaratkan pengalaman, keterampilan, maupun latar belakang pendidikan tertentu. Belajar dilakukan setelah bergabung sambil jalan. Sebenarnya ada syarat minimal pendidikan SMA atau sederajat, tapi ini bukan syarat yang sulit.

Kedua, bisnis asuransi bisa dimulai dengan modal materi yang sangat kecil. Karena itu risikonya pun kecil. Orang tidak akan kehilangan apa-apa jika pun tidak berhasil. Modal material untuk jadi agen asuransi hanyalah membayar biaya untuk ujian lisensi sekitar 300 ribuan (jika di Allianz ditambah modal untuk beli gadget iPad sekitar 4-6 jutaan, yang itu menjadi milik sendiri). Jadi syarat untuk bergabung tidak sulit.

Ketiga, ada ahlinya yang akan mengajari. Walaupun saat masuk anda buta sama sekali tentang bisnis asuransi, ada leader dan support system yang akan membantu anda. Bisnis asuransi dijalankan dengan konsep bisnis pemasaran jaringan (network marketing). Orang yang mengajak anda (upline, leader) bertanggung jawab membimbing anda sampai anda berhasil. Yang perlu anda lakukan hanyalah mengikuti semua nasihatnya.

Keempat, segmen pasar asuransi sangat luas. Setiap orang butuh asuransi, dari bayi sampai lansia. Dan siapa pun yang mampu menyisihkan penghasilannya beberapa ratus ribu setiap bulan, bisa menjadi nasabah asuransi. Ini memang bukan kalangan bawah, tapi kelas menengah pun jumlahnya sangat banyak di Indonesia.

Dengan empat faktor di atas, jelaslah bahwa agen asuransi adalah profesi atau bisnis yang bisa dimasuki siapa pun orang, yang penting dia punya kemauan yang kuat untuk berhasil, mau belajar, terus mencoba, belajar lagi dan mencoba lagi, dan tidak berhenti sebelum mendapatkan hasil yang diharapkan.

Tak ada yang akan menghalangi anda untuk menjadi agen asuransi yang berhasil, kecuali anda sendiri.

Demikian. []

Tertarik menjadi agen asuransi di Allianz? Klik di SINI.

Untuk konsultasi tentang bisnis asuransi di Allianz, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Business Partner Allianz)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: asepsopyan.asn@gmail.com | Youtube: Asep Sopyan

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: