Saat kita mengalami kesulitan keuangan, apa yang kita lakukan?

Yang paling realistis adalah mengurangi pengeluaran.

Ada banyak pengeluaran kita dalam sebulan. Biaya makan-minum, biaya rumah tangga, cicilan rumah, cicilan kendaraan, sekolah anak, zakat dan sedekah, premi asuransi, pulsa, bensin, operasional bisnis, iuran klub olahraga, dan sebagainya.

Pengeluaran apa yang pertama kali terpikirkan untuk dikurangi?

Mungkin di antara kita ada yang menjawab, premi asuransi.

Ya, itu pilihan yang kelihatannya paling nyaman daripada mengurangi pengeluaran yang lain. Tapi jangan salah, bisa jadi itu juga kesalahan yang paling fatal.

Jika polis asuransi kita jenis unitlink dan sudah boleh cuti premi (usia polis telah melewati 5 tahun), menunda bayar premi tidak akan menyebabkan polis langsung lapse. Jadi bolehlah alokasi untuk asuransi ditunda dulu.

Tapi jika polis asuransi kita belum memungkinkan untuk cuti premi (usia polis belum 5 tahun atau nilai investasinya sangat sedikit karena sering ditarik), menunda bayar premi akan menyebabkan polis lapse atau tidak aktif. Dan jika kita melakukan itu, sesungguhnya kita dan keluarga kita berada dalam bahaya besar.

Coba kita pertimbangkan kembali situasinya.

Kita mengalami kesulitan keuangan, lalu kita menghentikan membayar premi sehingga polis menjadi lapse. Kita pun tidak lagi terlindungi dari risiko hidup yang mungkin menimpa secara tiba-tiba.

Jika kita baik-baik saja, masalah keuangan kita mungkin akan beres perlahan-lahan, dan kita pun bisa memulihkan kembali polis asuransi kita.

Tapi bagaimana jika kita tertimpa suatu musibah, entah sakit, atau kecelakaan, atau meninggal dunia? Maka masalah keuangan kita akan semakin berat. Awalnya ingin menghemat pengeluaran, tiba-tiba malah menjadi kian berantakan.

Kebanyakan kelas menengah di negara kita hidup dengan cicilan utang, terutama untuk rumah dan kendaraan. Kabar baiknya, cicilan rumah dan kendaraan biasanya sudah dilindungi dengan asuransi jiwa. Jika kita meninggal dunia, cicilan lunas sehingga rumah dan kendaraan bisa tetap menjadi milik keluarga kita.

Tapi banyak dari kelas menengah kita yang juga mempunyai utang di luar itu, utang yang biasanya tidak terlindungi asuransi jiwa. Mungkin utang ke teman, utang kartu kredit, utang bisnis, utang ke pegadaian, dan sebagainya.

Hati-hati, karena risiko selalu mengintai setiap saat dan tidak pernah menghubungi kita dulu ketika datang. Jika kita terkena musibah berupa sakit, utang kita bisa makin membengkak. Jika musibah itu berupa sakit kritis atau kecelakaan yang menimbulkan cacat tetap, utang kita mungkin tak akan terbayar selamanya. Dan jika musibah itu berupa meninggal dunia, utang tersebut akan diwariskan kepada keluarga kita.

Beruntunglah orang yang punya asuransi dan tetap mempertahankan asuransinya dalam kondisi sesulit apa pun. Khususnya asuransi jiwa, inilah yang akan menjadi harta terakhir kita.

Bisa jadi, polis asuransi jiwa adalah satu-satunya harta yang bisa kita wariskan kepada keluarga kita ketika harta yang lain telah habis untuk membiayai segala keperluan kita di masa hidup.

Bahkan bisa jadi, polis asuransi jiwa adalah satu-satunya harta yang akan melunasi utang-utang kita, dan melapangkan perjalanan kita di alam keabadian. []


Beberapa penawaran asuransi jiwa:

  1. UP jiwa 1 miliar, mulai 360 ribu per bulan
  2. UP jiwa 3 miliar, mulai 1 juta per bulan
  3. Proteksi Penghasilan 2,5 miliar, premi mulai 600 ribu per bulan
  4. Fitur Wakaf melalui Polis Asuransi Jiwa Syariah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *